Laman

Selasa, 16 November 2010

Nasehat, Niat Individu dan Motivasi Powerfull.


Ini adalah pengalaman pribadi yang mungkin sedikit banyak dapat masuk kedalam salah satu tugas matakuliah yang sedang saya pelajari. Beberapa tahun yang lalu, ketika lulus dari sekolah menengah kejuruan dengan nilai yang boleh dibilang pas-pasan, nyesel dan tidak nyesel dengan apa yang dicapai selam tiga tahun mencari ilmu itu..kenapa dibilang begitu? Tidak nyesel, karena selama itu pula pengalaman yang ditemui baik negatif maupun positif sangat luar biasa dan tak ternilai harganya. Yang tak mungkin bisa untuk dilupakan dalam hidup yang singkat ini, seperti, susah, senang, canda, tawa, indahnya kenakalan remaja sering dilakukan,senang tak melewatkan masa muda, selayaknya bahwa inilah hidup dalam kebebasan,tak ada kekangan, hidup semaunya dan yang terlintas dipikiran pada saat itu adalah bagaimana caranya menjadikan hari-kehari selalu berakhir dengan kata senang, namun tak pernah merasakan puas pada saat itu. Sebalikny kalo dibilang menyesal? Sangat sungguh tersiksa hidup dalam bayang-bayang kebodohan, namun dibebani tanggung jawab sebagai anak lelaki yang kelak akan menjadi kepala keluarga jika hendak berumah tangga. Hmmh… namun yasudahlah wong semuanya sudah terjadi, ikuti saja apa yang akan terjadi. Seiring waktu berjalan, seperti apa yang banyak orang bilang bahwa, “ semuanya ada waktunya ”, nidji bilang “ roda pasti berputar ”  dan kata peterpan bilang “ tak ada yang abadi ” semuanya hilang entah kemana hanya tertinggal beberapa fhoto waktu kelulusan dan serpihan kenangan yang selalu terbayang. Ketika semua itu telah berakhir, dan ketika pola kehidupan sudah mulai ingin memabaik, boleh dibilang pada saat itu sudah lelah dengan apa yang dilakukan kenakalan remaja dimasa SMA dan sudah waktunya untuk memeberikan nilai fositif bagi banyak orang, dan disaat itu pula kehidupan mulai tak bersahabat. Rasa malu, gundah, minder yang menghantui dengan apa yang harus diperbuat pada saat itu, hanya bisa diam, dan sungguh jenuhku dibuatnya, memang benar-benar susah kalo ingin berada dijalan yang benar. Singkat saja Pada suatu ketika saya pernah sempat memebaca salah satu novel Negeri 5 Menara. ceritanya sangat bagus dan dari novel itu saya menemukan sepenggal kata yang dapat menggugah rasa, memebangkitkan semangat dan sedikit menghilangkan penat.
Nasehat imam syafi'i ; di kutip dari buku novel Negeri 5 Menara. " Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang ".
Nasihat imam syafi'i  inilah yang memotivasi saya untuk berangkat merantau kenegeri orang, walaupun masih dalam satu negara namun setikdaknya disini saya berjuang tanpa ada bantuan, tanpa dilihat, dan ditemani orang tua,teman-teman dan sanak sodara, dan merasakan pengalaman hidup yang baru, adaptasi dengan keadaan yang baru. Setelah kita bisa melewati itu semua, kita akan mendapatkan ikeluarga baru, teman baru, so jangan merasa kecil hati karena manusia adalah mahluk sosial, kita pasti butuh orang lain dan begitu juga dengan orang lain sedikit banyak pasti akan membutuhkan kita. Kalo apa yang saya baca dari buku paket ILMU SOSIAL DASAR yang sedang saya pelajari pula. Penomena yang telah saya alami boleh disebut dengan kata  URBANISASI seperti yang kita sama-sama ketahui dan mungkin bukan hal luar biasa dimata yang awam, bahwa urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa kekota. Dan seperti apa yang dikatakan diatas bahwa tingkat kejenuhan dan dikala hidup mulai tak besahabat itu  merupakan salah satu faktor yang mendorong saya untuk merantau kenegeri orang serta kutipan karya imam syafi’I turut menambah motivasi saya untuk melakukan hal itu. Karena niat yang kuat disertai motivasi yang powerfull dari teman, kerabat, dan tentunya orang tua cukup mengantar saya hingga sampai seperti sekarang ini. Masih belum jadi apa-apa, namun masih bisa bertahan ditengah krisis zaman seperti ini, itu udah cukup buat saya. bukan hal yang mudah untuk bisa tetap bertahan dengan kerasnya hidup di zaman moderinitas ini. Karena hidup dinegeri orang tak semudah membalikan telapak tangan, semua penuh liku, persaingan, pengorbanan, kesabaran, hambatan, perlu proses dan bagi saya proses iti memerlukan waktu yang cukup lama. Namun inilah hidup kawan, keras, kejam, dan menakutkan. Karena hidup bagaikan berada di hutan rimba siapa yang kuat dia yang berkuasa. Hmm..Kata ini pula turut menambah motivasi guna untuk hidup yang lebih kuat, cerdas, dan tepat.
Menjadi individu yang mandiri, itu adalah salah satu nilai positif dalam hidup dan itu patut untuk dihargai. dengan niat yang besar dan kuat dari diri pribadi masing-masing serta didukung dengan motivasi yang powerfull, tentang semua apa yang awalnya kita ragukan akan tercapai dengan begitu saja. Luar biasa memang,dan anda lebih akan merasakan nikmat yang luar biasa itu ketika anda sedang berada di puncak kesuksesan dari jerih payah yang telah kita lakukan dimasa lampau. Namun semua itu tak luput dari kesabaran dan bekerja keras. Kejarlah cita-citamu bung sampai ke ujung dunia, bermimpilah dan gapai semua anganmu untuk menaklukan dunia.

Sabtu, 06 November 2010

Keanekaragaman Agama Di Indonesia

Wikipedia.org

Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannnya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri. Misal Tuhan, Dewa, God, Syang-ti, Kami-Sama dan lain-lain atau hanya menyebut sifat-Nya saja seperti Yang Maha Kuasa, Ingkang Murbeng Dumadi, De Weldadige dll. Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri , yaitu : menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan, menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari Tuhan Dengan demikian diperoleh keterangan yang jelas, bahwa agama itu penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian agama terdapat 3 unsur, ialah manusia, penghambaan dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama.


Cara Beragama
Berdasarkan cara beragamanya :
1. Tradisional, yaitu cara beragama berdasar tradisi. Cara ini mengikuti cara beragamanya nenek moyang, leluhur atau orang-orang dari angkatan sebelumnya. Pada umumnya kuat dalam beragama, sulit menerima hal-hal keagamaan yang baru atau pembaharuan. Apalagi bertukar agama, bahkan tidak ada minat. Dengan demikian kurang dalam meningkatkan ilmu amal keagamaanya. 
2. Formal, yaitu cara beragama berdasarkan formalitas yang berlaku di lingkungannya atau masyarakatnya. Cara ini biasanya mengikuti cara beragamanya orang yang berkedudukan tinggi atau punya pengaruh. Pada umumnya tidak kuat dalam beragama. Mudah mengubah cara beragamanya jika berpindah lingkungan atau masyarakat yang berbeda dengan cara beragamnya. Mudah bertukar agama jika memasuki lingkungan atau masyarakat yang lain agamanya. Mereka ada minat meningkatkan ilmu dan amal keagamaannya akan tetapi hanya mengenai hal-hal yang mudah dan nampak dalam lingkungan masyarakatnya. 
3. Rasional, yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan rasio sebisanya. Untuk itu mereka selalu berusaha memahami dan menghayati ajaran agamanya dengan pengetahuan, ilmu dan pengamalannya. Mereka bisa berasal dari orang yang beragama secara tradisional atau formal, bahkan orang tidak beragama sekalipun. 
4. Metode Pendahulu, yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan akal dan hati (perasaan) dibawah wahyu. Untuk itu mereka selalu berusaha memahami dan menghayati ajaran agamanya dengan ilmu, pengamalan dan penyebaran (dakwah). Mereka selalu mencari ilmu dulu kepada orang yang dianggap ahlinya dalam ilmu agama yang memegang teguh ajaran asli yang dibawa oleh utusan dari Sesembahannya semisal Nabi atau Rasul sebelum mereka mengamalkan, mendakwahkan dan bersabar (berpegang teguh) dengan itu semua. 
Agama di Indonesia, Enam agama besar yang paling banyak dianut di Indonesia, yaitu: agama Islam, Kristen (Protestan) dan Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Sebelumnya, pemerintah Indonesia pernah melarang pemeluk Konghucu melaksanakan agamanya secara terbuka. Namun, melalui Keppress No. 6/2000, Presiden Abdurrahman Wahid mencabut larangan tersebut. Tetapi sampai kini masih banyak penganut ajaran agama Konghucu yang mengalami diskriminasi dari pejabat-pejabat pemerintah. Ada juga penganut agama Yahudi, Saintologi, Raelianisme dan lain-lainnya, meskipun jumlahnya termasuk sedikit.
Menurut Penetapan Presiden (Penpres) No.1/PNPS/1965 junto Undang-undang No.5/1969 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penodaan agama dalam penjelasannya pasal demi pasal dijelaskan bahwa Agama-agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia adalah: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Meskipun demikian bukan berarti agama-agama dan kepercayaan lain tidak boleh tumbuh dan berkembang di Indonesia. Bahkan pemerintah berkewajiban mendorong dan membantu perkembangan agama-agama tersebut. Sebenarnya tidak ada istilah agama yang diakui dan tidak diakui atau agama resmi dan tidak resmi di Indonesia, kesalahan persepsi ini terjadi karena adanya SK (Surat Keputusan) Menteri dalam negeri pada tahun 1974 tentang pengisian kolom agama pada KTP yang hanya menyatakan kelima agama tersebut. Tetapi SK (Surat Keputusan) tersebut telah dianulir pada masa Presiden Abdurrahman Wahid karena dianggap bertentangan dengan Pasal 29 Undang-undang Dasar 1945 tentang Kebebasan beragama dan Hak Asasi Manusia. Selain itu, pada masa pemerintahan Orde Baru juga dikenal Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang ditujukan kepada sebagian orang yang percaya akan keberadaan Tuhan, tetapi bukan pemeluk salah satu dari agama mayoritas.
Indonesia memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dinyatakan dalam ideologi bangsa Indonesia, Pancasila: “KeTuhanan Yang Maha Esa”. Sejumlah agama di Indonesia berpengaruh secara kolektif terhadap politik, ekonomi dan budaya. Di tahun 2010, kira-kira 85,1% dari 240.271.522 penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, 9,2% Protestan, 3,5% Katolik, 1,8% Hindu, dan 0,4% Buddha. Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa "tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaannya" dan "menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaannya". Pemerintah, bagaimanapun, secara resmi hanya mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu. Dengan banyaknya agama maupun aliran kepercayaan yang ada di Indonesia, konflik antar agama sering kali tidak terelakkan. Lebih dari itu, kepemimpinan politis Indonesia memainkan peranan penting dalam hubungan antar kelompok maupun golongan. Program transmigrasi secara tidak langsung telah menyebabkan sejumlah konflik di wilayah timur Indonesia. 
Kepercayaan terhadap benda mati (animisme) di Indonesia sama dengan penyembah benda mati di dunia lainnya, yang mana, suatu kepercayaan terhadap objek tertentu, seperti pohon, batu atau orang-orang. Kepercayaan ini telah ada dalam sejarah Indonesia yang paling awal, di sekitar pada abad pertama, tepat sebelum Hindu tiba Indonesia. Lagipula, dua ribu tahun kemudian, dengan keberadaan Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu dan agama lainnya, penyembah benda mati masih tersisa di beberapa wilayah di Indonesia. Bagaimanapun, kepercayaan ini tidak diterima sebagai agama resmi di Indonesia, sebagaimana dinyatakan didalam Pancasila bahwa kepercayaan itu pada Ketuhanan Yang Maha Esa atau monoteisme. Penyembah benda mati, pada sisi lain tidak percaya akan dewa tertentu.
Hubungan antar agama, Walaupun pemerintah Indonesia mengenali sejumlah agama berbeda, konflik antar agama kadang-kadang tidak terelakkan. Di masa Orde Baru, Soeharto mengeluarkan perundang-undangan yang oleh beberapa kalangan dirasa sebagai anti Tionghoa. Presiden Soeharto mencoba membatasi apapun yang berhubungan dengan budaya Tionghoa, mencakup nama dan agama. Sebagai hasilnya, Buddha dan Khonghucu telah diasingkan.Antara 1966 dan 1998, Soeharto berikhtiar untuk de-Islamisasi pemerintahan, dengan memberikan proporsi lebih besar terhadap orang-orang Kristen di dalam kabinet. Namun pada awal 1990-an, isu Islamisasi yang muncul, dan militer terbelah menjadi dua kelompok, nasionalis dan Islam. Golongan Islam, yang dipimpin oleh Jenderal Prabowo, berpihak pada Islamisasi, sedangkan Jenderal Wiranto dari golongan nasionalis, berpegang pada negara sekuler.
Semasa era Soeharto, program transmigrasi di Indonesia dilanjutkan, setelah diaktifkan oleh pemerintahan Hindia Belanda pada awal abad ke-19. Maksud program ini adalah untuk memindahkan penduduk dari daerah padat seperti pulau Jawa, Bali dan Madura ke daerah yang lebih sedikit penduduknya, seperti Ambon, kepulauan Sunda dan Papua. Kebijakan ini mendapatkan banyak kritik, dianggap sebagai kolonisasi oleh orang-orang Jawa dan Madura, yang membawa agama Islam ke daerah non-Muslim. Penduduk di wilayah barat Indonesia kebanyakan adalah orang Islam dengan Kristen merupakan minoritas kecil, sedangkan daerah timur, populasi Kristen adalah sama atau bahkan lebih besar dibanding populasi orang Islam. Hal ini bahkan telah menjadi pendorong utama terjadinya konflik antar agama dan ras di wilayah timur Indonesia, seperti kasus Poso di tahun 2005.
Pemerintah telah berniat untuk mengurangi konflik atau ketegangan tersebut dengan pengusulan kerjasama antar agama. Kementerian Luar Negeri, bersama dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, yang dipegang oleh Sarjana Islam Internasional, memperkenalkan ajaran Islam moderat, yang mana dipercaya akan mengurangi ketegangan tersebut. Pada 6 Desember 2004, dibuka konferensi antar agama yang bertema “Dialog Kooperasi Antar Agama: Masyarakat Yang Membangun dan Keselarasan”. Negara-negara yang hadir di dalam konferensi itu ialah negara-negara anggota ASEAN, Australia, Timor Timur, Selandia Baru dan Papua Nugini, yang dimaksudkan untuk mendiskusikan kemungkinan kerjasama antar kelompok agama berbeda di dalam meminimalkan konflik antar agama di Indonesia. Pemerintah Australia, yang diwakili oleh menteri luar negerinya, Alexander Downer, sangat mendukung konferensi tersebut.

Jumat, 05 November 2010

Masih Adakah Arti Pahlawan Itu


Disusun oleh Toni Tanamal
Pahlawan, apa itu pahlawan? Menurut saya pahlawan adalah orang yang pernah berjasa dan bekeraj keras atau bertarung sekuat jiwa dan raga bahkan sampai titik darah penghabisan untuk memepertahankan hak-hak yang dianggap oleh sebagian orang itu adalah suatu kebenaran dan berjuang demi untuk kepentingan bersama dengan tanpa pamrih. tapi kenapa banyak yang mengabaikan arti dari kepahlawanan nasionalnya sendiri.  Padahal di media, film, buku, dan komik istilah kepahlawanan ini kerap terdengar seolah-olah kata pahlawan itu menjadi headline didalam kehidupan sehari-hari. Apa sebenarnya pahlawan menurut generasi anak muda? Coba tanyakan pada mereka, pahlawan seperti apa yang mereka kenal? Apakah lebih mengenal pahlawan animasi Jepang dan atau super heronya Amerika daripada pahlawan negaranya sendiri Pangeran Dipenogoro, Bung Tomo, Tuanku Imam Bonjol, dan lain-lain. Namun ada lagi  yang lebih mengejutkan adalah pemuatan patung Obama di Menteng, yang seakan-akan patung itu menjadi simbolisme bahwa dia adalah pahlawan bagi negeri ini. Padahal hanya pernah merasakan tinggal dan sekolah di Indonesia dengan durasi beberapa bulan atau tahun dan belum sempat memeberikan hal yang signifikan akan negara ini untuk memenuhi kriteria pahlawan, apa karena mungkin sekarang telah menjadi salah satu orang penting di negeri Paman Sam. Dengan pengutaraan yang seperti itu apakah benar bahwa dia lebih hebat kedudukannya dibandingkan dengan pahlawan nasional kita atau bahkan lebih hebat dari  Soekarno sekalipun?  Kalo memeng begitu,oke.. itu bukan masalah mau siapapun yang dijadikan sebagai pahlawan asalakan masih dapat dicerna oleh akal dan pikiran kita , menurut saya itu sah-sah aja.
Nah, mari kita tengok dan bandingkan dengan kejadian beberapa hari lalu yang cukup ramai mengisi headline berita stasiun televisi, yakni Pro dan Kontra tentang pemberian gelar pahlawan nasional kepada mantan Presiden RI yang kedua, Kenapa harus diperdebatkan? Toh dia juga merasakan yang namanya berjuang melawan penjajah, melawan pemberontakan yang dikenal dengan G30SPKI atau RSM kalo boleh kita sebutkan juga, memepertahankan kemerdekaan, bahkan sempat bisa memimpin negara selama 6 periode serta sampai-sampai di juluki Bapak Pembangun berkat dedikasi terhadap pembangunan negara ini, apakah itu kurang luar bisa atau bahkan tak sebanding dengan kriteria pahlawan yang pernah ada di sini. Semua berakar kepada nilai negatif yang telah dilakukan Soeharto, namun menurut saya itu wajar, toh yang namanya orang tak luput dari salah dan dosa. Seiring perubahan zaman, pergeseran nilai etika, adat istiadat sampai dengan teknologi mulai memasuki setiap jenjang kehidupan bangsa ini. Sebuah zaman ketika masyarakat Indonesia merasakan kuatnya cengkraman globalisasi yang berkedok modernisasi. Adakalanya perubahan tersebut memicu ke arah positif, namun tidak dapat dimungkiri, bahwa ada perubahan negatif yang mengkhawatirkan. Pengaruh negatif tersebut akan tampak dalam kehidupan generas-generasi yang akan datang dan sedang berlangsung, terutama dalam menghayati dan mengamalkan nilai kepahlawanan. Meski demikian, kita memang harus tetap optimistis bahwa bangsa ini mau menghargai dan menerapkan nilai-nilai kepahlawanan. Semangat juang, kegigihan dan pantang menyerah, mengedepankan amanat rakyat, anti korupsi, adalah beberapa sifat pahlawan yang dapat kita teladani. Dari situ kita bisa menghargai jasa para pahlawan serta menerapkan sifat-sifat teladan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya kita harus tahu dan benar-benar menghayati darah para pejuang yang telah membela negeri ini.
Pada prinsipnya pemasukan nilai-nilai kepahlawanan dalam generasi muda harus dilakukan sejak dini. Urgensi harus dicapai mengingat perubahan zaman yang semakin nyatadan lambat laun mengikis nasionalisme generasi muda. Generasi muda kita begitu lekat bahkan mengidolakan pahlawan khayalan ciptaan luar negeri dan Kemungkinan besar tak mengenal lagi siapa tokoh yang mendirikan dan memperjuangkan negeri ini. Kalaupun mereka mengenal, hanya sebatas ingat nama dalam balutan buku sejarah. Semua itu akan membawa dampak yang luar biasa bagi perkembangan anak di masa yang akan datang. Bukan hanya nilai dan moral yang tidak sesuai dengan kultur kebudayaan Indonesia, namun pada prakteknya kultur bangsa ini akan digantikan oleh kultur kebudayaan asing.  Penerapan nilai-nilai kepahlawanan sudah sepatutnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika berpikir ke depan, tentu saja peranan orang tua, lingkungan dan negara diperlukan. Orang tuanya setidaknya mengajarkan nilai-nilai kepahlawanan tersebut dalam ruang lingkup keluarga, jangan sampai semangat dan nilai pahlawan tersebut hanya diterapkan pada formalitas pendidikan semata. Karena kenyataannya pendidikan sejarah dan kewarnegaraan bagi generasi muda hanya dijadikan kebutuhan pemenuhan nilai akademik dibandingkan dengan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepahlawanan. Hal yang perlu ditekankan lagi bahwa generasi tua harus menyerahkan mata rantai kepemimpinan terhadap generasi penerus dengan bekal-bekal nilai-nilai luhur yang dimiliki para pahlawan. Nah, sudah sepantasnya pemerintah mencoba menggunakan media dengan membuat film, sinetron yang berbau kepahlawanan dan mengedepankan aspek moralitas bangsa. Jangan sampai yang ditonton dan ditiru justru kebudayaan asing yang tidak cocok dengan kultur kebudayaan Indonesia.

Kamis, 04 November 2010

Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan

Disusun Oleh Toni Tanamal
Rangkuman dari buku Ilmu Sosial Dasar.Dr. H. Hartomo, Dra. Arnicun Aziz
Masyarakat Pedesaan
            Manusia merupakan makhluk yang memiliki keinginan untuk menyatu dengan sesamanya serta alam lingkungan di sekitarnya. Dengan menggunakan pikiran, naluri, perasaan, keinginan dan sebagainya manusia memberi reaksi dan melakukan interaksi dengan lingkungannya. Pola interaksi sosial dihasilkan oleh hubungan yang berkesinambungan dalam suatu masyarakat.
            Pengertian desa/pedesaan Menurut Bintaro, desa merupakan perwujudan atau kesatuan goegrafi ,sosial, ekonomi, politik dan kultur yang terdapat ditempat itu (suatu daerah), dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain. Sedang menurut Paul H. Landis :Desa adalah pendudunya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri ciri sebagai berikut : mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa. Ada pertalian perasaan yang sama  tentang kesukaan terhadap kebiasaan  Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti : iklim, keadaan alam ,kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan
            Adapun yang dimaksud dengan desa menurut Sutardjo Kartodikusuma mengemukakan sebagai berikut : Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri[1]. Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan pengertian desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam system pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dari defenisi tersebut, sebetulnya desa merupakan bagian vital bagi keberadaan bangsa Indonesia. Vital karena desa merupakan satuan terkecil dari bangsa ini yang menunjukkan keragaman Indonesia. Selama ini terbukti keragaman tersebut telah menjadi kekuatan penyokong bagi tegak dan eksisnya bangsa. Dengan demikian penguatan desa menjadi hal yang tak bisa ditawar dan tak bisa dipisahkan dari Ciri-ciri Masyarakat desa (karakteristik)
Dalam buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga seorang ahli Sosiologi “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mebngenal ciri-ciri sebagai berikut :
a.   Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan  tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain  dan menolongnya tanpa pamrih.
b.    Orientasi kolektif  sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.
c.    Partikularisme  pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme)
d.    Askripsi  yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawanya prestasi).
e.    Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat Talcott Parson) dapat terlihat pada desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh dari luar.[2]
Masyarakat Perkotaan
      Pengertian Kota Seperti halnya desa, kota juga mempunyai pengertian yang bermacam-macam seperti pendapat beberapa ahli berikut ini.Wirth Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Max Weber Kota menurutnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar lokal. Dwigth Sanderson Kota ialah tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih.
      Dari beberapa pendapat secara umum dapat dikatakan mempunyani ciri-ciri mendasar yang sama. Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan. Menurut konsep Sosiologik sebagian Jakarta dapat disebut  Kota,[3] karena memang gaya hidupnya yang cenderung bersifat individualistik. Marilah sekarang kita meminjam lagi teori Talcott Parsons mengenai tipe masyarakat kota yang diantaranya mempunyai ciri-ciri  :
a).   Netral Afektif
Masyarakat Kota memperlihatkan sifat yang lebih mementingkat Rasionalitas dan sifat rasional ini erat hubungannya dengan konsep Gesellschaft atau Association. Mereka tidak mau mencampuradukan hal-hal yang bersifat emosional atau yang menyangkut perasaan pada umumnya dengan hal-hal yang bersifat rasional, itulah sebabnya tipe masyarakat itu disebut netral dalam perasaannya.
b).   Orientasi Diri
Manusia dengan kekuatannya sendiri harus dapat mempertahankan dirinya sendiri, pada umumnya dikota tetangga itu bukan orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan kita oleh karena itu setiap orang dikota terbiasa hidup tanpa menggantungkan diri pada orang lain, mereka cenderung untuk individualistik.
c).   Universalisme
Berhubungan dengan semua hal yang berlaku umum, oleh karena itu pemikiran rasional merupakan dasar yang sangat penting untuk Universalisme.
d).   Prestasi
 Mutu atau prestasi seseorang akan dapat menyebabkan orang itu diterima  berdasarkan kepandaian atau keahlian yang dimilikinya.
e).   Heterogenitas
Masyarakat kota lebih memperlihatkan sifat Heterogen, artinya terdiri dari lebih banyak komponen dalam susunan penduduknya.
Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat perkotaan, yaitu :
               i.       Kehidupan keagamaannya berkurang, kadangkala tidak terlalu dipikirkan karena memang kehidupan yang cenderung kearah keduniaan saja.
              ii.       Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus berdantung pada orang lain (Individualisme).
            iii.       Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
            iv.       Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota.
              v.       Jalan kehidupan yang cepat dikota-kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu bagi warga kota, sehingga pembagian waktu yang teliti sangat penting, intuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.
            vi.       Perubahan-perubahan tampak nyata  dikota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.


[1] Drs. H. Hartomo dan Dra. Arnicun Aziz, Ilmu Sosial Dasar, Hal.240
[2] gudangmateri.com
[3] H..E Kosim, STBA Yapari Bandung, 1996, Hal. 97

Urbanisasi dan Urbanisme

Disusun Oleh Toni Tanamal
Rangkuman dari buku Ilmu Sosial Dasar.Dr. H. Hartomo, Dra. Arnicun Aziz

           Dengan adanya hubungan Masyarakat Desa dan Kota  yang saling ketergantungan dan saling membutuhkan tersebut maka timbulah masalah baru yakni ; Urbanisasi yaitu suatu proses berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dapat pula dikatakan bahwa urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat perkotaan. Sedangkan definisi dari Urbanisme ialah sikap dan cara hidup orang kota, perkembangan daerah perkotaan dan ilmu tentang kehidupan kota.
           Proses urbanisasi boleh dikatakan terjadi diseluruh dunia, baik pada Negara-negara yang sudah maju industrinya maupunyang secara relative belum memiliki industry. Urabanisasi juga memiliki akibat-akibat yang negatiif terutama dirasakan bagi Negara agraris seperti Indonesia ini. Dan boleh dikatakan factor kebanyakan penduduk dalam suatu daerah “over-population” erupakan gejala yang umum di Negara agraris yang secara ekonomis masih terbelakang.
Sebab-sebab Urbanisasi
1.)   Faktor-faktor yang mendorong penduduk desa untuk meninggalkan daerah kediamannya (Push factors)
Hal – hal yang termasuk push factor antara lain :
·         Bertambahnya penduduk sehingga tidak seimbang dengan persediaan lahan pertanian,
·         Terdesaknya kerajinan rumah di desa oleh produk industri modern.
·         Penduduk desa, terutama kaum muda, merasa tertekan oleh oleh adat istiadat yang ketat sehingga mengakibatkan suatu cara hidup yang monoton.
·         Didesa tidak banyak kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan.
·         Kegagalan panen yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti banjir, serangan hama, kemarau panjang, dsb. Sehingga memaksa penduduk desa untuk mencari penghidupan lain dikota.

2.)   Faktor-faktor yang ada dikota yang menarik penduduk desa untuk pindah dan menetap dikota (pull factors)
Hal – hal yang termasuk pull factor antara lain :
·         Penduduk desa kebanyakan beranggapan bahwa dikota  banyak pekerjaan dan lebih mudah untuk mendapatkan penghasilan
·         Dikota lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan usaha kerajinan rumah menjadi industri kerajinan.
·         Pendidikan terutama pendidikan lanjutan, lebih banyak dikota dan lebih mudah didapat.
·         Kota dianggap mempunyai tingkat kebudayaan yang lebih tinggi dan merupakan tempat pergaulan dengan segala macam kultur manusianya.
·         Kota memberi kesempatan untuk menghindarkan diri dari kontrol sosial yang ketat atau untuk mengangkat diri dari posisi sosial yang rendah.
Pesekutuan hidup yang paling kecil dimulai saat manusia primititif mencari makan, yaitu dengan berburu , sebagai migrator, nomad berjumlah 10-300 orang. Kenyataan ini disesuaikan dengan persediaan makanannya, berkembangnya cara bertani menyebabkan lahirnya lahirnya suatu persekutuan hidup permanen pada suatu tempat dengan sifat yang khas yaitu : Kekeluargaan, ada kolektivitas dalam pembagian tanah dan pengerjaannyam ada kesatuan ekonomis yang memenuhi kebutuhan sendiri. Menurut Koentjaraningrat, suatu masyarakat desa menjadi sutu persekutuan hidup dan social berdasarkan atas dua macam prinsip :
1.    Prinsup hubungan kekerabatan (geneologis)
2.    Prisip hubungan tinggal dekat/territorial
Namun prinsip ini kurang lengkap jika yang mengikat adanya aktivitas tidak diikut sertakan, yaitu :
1.    Tujuan khusus yang ditentukan oleh faktor ekilogis
2.    Prinsip yang dating dari atas oleh aturan dan undang-undang.

Masih Adakah Harapan Dari Para Pemuda ?

Disusun Oleh Toni Tanamal
Seperi yang telah dibahas dari buku Ilmu Sosial dasar yang saya jadikan tugas bahwa, Pemuda adalah suatu generasi yang dipundaknya terbebani bermacam-macam harapan, terutama dari generasi yang sudah mungkin dipastikan tidak bisa lagi untuk diharapkan. Pada generasi ini mempunyai peranan-peranan yang sangat bervariasi, dimana jika permasalahan ini tidak diatasi secara professional maka pemuda akan kehilangan fungsinya selain itu pemuda memiliki potensi – potensi yang sangat melekat pada dirinya dan sangat penting artinya bagi sumber daya manusia. Adapun potensi –potensi yang perlu dikembangan dari generasi muda, Idelialisme dan daya kritis, Dinamika dan Kreatifitas, keberanian mengambil resiko, optimis dan kegairahan semangat, Sikap kemandirian dan disiplin murni, terdidik, keanekaragaman dalam persatuan dan kesatuan, patriotisme dan nasionalisme, sikap kesatria, dan kemampuan ilmu dan teknologi.
Apakah masih ada nilai-nilai yang dijelaskan di atas pada pemuda saat ini..? apakah mereka masih menghargai dan menghormati para pejuang kemerdekaan? apakah mereka masih ingat akan sumpah Pemuda dan apakah mereka masih ingat pula isi dan tanggal tecetusnya sumpah pemuda? Tidak sedikit pemuda saat ini yang lupa akan penomena itu, yang ada dipikiran mereka hanya senang-senang, hura-hura, menghabiskan uang orang tuanya dan hal negatif lainnya.  Sedangkan Tugas pemuda sekarang dan masa depan tidak bisa lepas kaitannya dengan tugas sejarah yang besar, tugas masa depan adalah tugas pembangunan yakni kita bersama-sama harus membangun hari esok yang kita cita-citakan melintasi panjang dan beratnya cita-cita yang diperjuangkan menjadikan suatu hari esok yang lebih baik berarti lebih baik dari hari ini dan kemarin. Karena semua cita-cita ini adalah tanggung jawab para generasi muda dan kita semua dan mengacu kepada “Masa depan adalah Milik Pemuda”,  maka penataan kehidupan pemuda mutlak diperlukan dan harus disiapkan secara matang .
Masih banyak generasi muda yang tak punya nyali, mereka pesimis dengan kemampuan yang dimilikinya saat ini dan hanya berpikiran “gimana entar aaja laah,,”. Hmmm.. sungguah disayangkan jika dinegara kita masih terdapat generasi muda yang masih berpikiran seperti itu. Tak ada cita-cita yang jelas, tak ada tujuan hidup yang jelas pula. Tentu saja hal seperti ini dapat berimbas pada kualaitas bangsa di masa yang akan datang. Bukan hal ini saja yang dapat dikadikan faktor boboroknya masa depan bangsa, kita ambil contoh dari fakta yang pernah saya ketahui terutama di daerah pedesaan mungkin bukan didaerah saya aja sering terjadinya hal seperti ini perkawinan di bawah umur sulit untuk dirubah karena ini merupakan bawaan dari adat suatu daerah itu sendiri atau apa saya juga kurang paham. Terutama bagi para anak perempuan, saya pernah bertanya kepada seorang ibu yang memiliki anak perempuan:
Saya     : Ibu kenapa anak perempuan ibu sekolahnya tidak dilajutin kejenjang lebih tinggi “SMP maksud  saya”?”padahal kalo dilihat dari segi ekonominya saya pikir keluarga ini mampu untuk menyekolahkan anaknya ”
Ibu       : Buat apa nak, Orang perempuanmah entarnya juga pasti ditanggung sama suaminya kelak, pasti  kedapur-dapur juga ujungannya..si ibu memperjelas.
Gubrak..mati langkah saya mendengar jawaban seperti itu, tak bisa membalas jawaban yang cukup singkat dan jelas itu. Dari apa yang saya ambil dari kejadian waktu itu menerangkan bahwa tak ada didikan yang berarti dari orang tua kepada anaknya, boleh dibilang terlalu kolot..hahahaa..hanya terpaku pada apa yang mungkin orang tua mereka ajarkan pada dirinya dulu..apa mungkin mereka tidak tahu bahwa sebagian perusahaan swasta banyak yang memebutuhkan tenaga kerja dari seorang perempun. Tak hanya itu  masih banyak lagi fktor yang lain seperti, kenakalan remaja yang disebabkan oleh pergaulan dan lingkungan,  Jika hal ini dibiarkan, masihkah kita berharap pada generasi muda.
Dalam rangka untuk memecahkan masalah yang tengah meradang pada generasi muda tersebut memerlukan usaha-usaha terpadu, terarah dan berencana dari seluruh potensi nasional. Menciptakan generasi muda yang Cerdas, tangkas, bepikir kritis, kretif, optimis dan mempunyai semangat yang powerfull. Organisasi-organisasi pemuda yang telah berjalan baik adalah merupakan potensi yang siap untuk dilibatkan dalam kegiatan pembangunan nasional. Demi kelangsungan kesejahteraan dimasa yang akan datang, maka proses sosialisasi generasi muda perlu mendapatkan perhatian. Untuk menjamin agar proses sosialisasi itu berjalan dengan baik dan untuk menghindari terjadinya krisis, maka  ada beberapa hal perlu diperhatikan : adanya Suatu Bahasa tentang materi sosialisasi. Walaupun media sosialisasi tersebut berbeda-beda , namun hendaknya isi Pesan tersebut tetap senada atau konsisten. Hal ini penting untuk melahirkan sikap yang teguh dan menghindari adanya kebingungan di kalangan generasi muda karena “Pesan Ganda” yang diterimanya. adanya keteladanan dari generasi tua, khususnya dari para pemimpin masyarakat yang terlimbat langsung dalam proses sosialisasi. Adanya Satu kata dan Perbuatan dari generasi tua, merupakan contoh yang secara langsung dapat ditiru oleh generasi muda. adanya campur tangan dari pemerintah yang lebih luas dalam proses sosialisasi, bukan hanya melalui pendidikan formal saja, tetapi juga melalui organisasi luar sekolah seperti Pramuaka, Karang Taruna dan lain sebagainya.

Pelapisan Sosial Dan Kesamaan Derajat

Disusun Oleh Toni Tanamal
Rangkuman dari buku Ilmu Sosial Dasar.Dr. H. Hartomo, Dra. Arnicun Aziz
Pelapisan sosial berasal dari kata stratus yang artinya (berlapis-lapis), sehingga strafikasi Sosial berarti “lapisan masyarakat”. Status adalah kedudukan sosial seseorang dalam kelompok masyarakatnya. Setatus ini mempunya dua aspek, yaitu : Aspek fungsional , juga disebut social role atau peranan sosial, yang terdiri dari kewajiban/keharusan-keharusan yang harus dilakukan seseorang karena kedudukannya di dalam status tertentu. Aspek struktural, ialah status yang ditunjukan oleh adanya atau susunan lapisan sosial dari atas ke bawah. Aspek ini sifatnya lebih stabil disbanding dengan fungsional. Sertifikasi Sosial lebih dapt dijelaskan kalo kita perhatikan kekastaan pada masyarakat Hindu dimana terdapat urutan-urutan yang paling tinggi sampai yang terendah seolah-hidupnya berlapis.  Susunan kekastaan Hindu tersebut adalah Brahmana, Ksatria, Waisya dan sudra. Demikian pula pada masyarakat modern seperti saat ini, sekalipun tidak setegas pembagian dalam kekastaan Hindu. Sertifikasi tersebut demikian kakunya, ada tembok-tembok yang memisahkan antar kasta mereka, karena mereka hanya berkomunikasi dengan masing-masing kastanya sendiri. Keadaan demikian jelas akan menghambat laju pembangunan pada masyarakat tersebut.
Setatus sosial merupakan kedudukan seseorang individu dalam suatu kelompok pergaulan hidupnya dan itu dapat dilihat dari dua aspek : Aspek statis, Yaitu kedudukan dan derajat seseorang didalam suatu kelompok, yang dapat dibedakan dengan derajat atau kedudukan individu lainnya. Seperti : petani dapat dibedakan dengan nelayan, pegawai negri, pedagang dan lain-lain. Aspek Dinamis, Yaitu hubungan erat dengan peranan sosial tertentu yang berhubungan dengan pengertian jabatan, fungsi, dan tingkah laku yang formal serta jasa yang diharapkan dari fungsi dan jabatan tersebut. Seperti : direktur perusahaan, Pimpinan Sekolah, komandan batilion, camat dan sebagainya. Peranan sosial adalah suatu cara atau perbuatan atau tindakan seorang individu dalam usahanya memenuhi tanggung jawab dan hak-hak dari status sosial. Pada prinsipnya setiap individu dalam pergaulan hidupnya memiliki status sosial yang pokok (key status) yang berupa :
a.       Pekerjaan seseorang  (merupakan status yang terpenting)
b.      Status dalam system kekerabatan.
c.       Status religious dan status politik.
Manusia dalam kehidupan bersama disamping mengadakan interaksi individu tidak jarang pula terjadi interaksi status. Pada akhirnya dapatlah ditekankan bahwa salah satu syarat dari kelompok yang sangat penting adalah adanya organisassi yang merupakan wadah dimana terdapat pembagian tugas dan petugas antara anggota-anggota suatu kelompok untuk mencapai tujuan dari kelompok tersebut. Dalam organisasi sosial memiliki dua aspek yang cukup penting, yakni Aspek Fungsi, melihatkan manisfestasi aktivitas kolektif dalam berbagai tujuannya; aktifitas kolektif akan diikuti oleh aktifitas-aktifitas kelompok yang lebih kecil. Dan Aspek stuktur, memperlihatkan bahwa struktur organisasi kemasyarakatan meliputi kelompok-kelompok sosial, pola-pola umum budaya masyarakat tertentu, pranata sosial dll.
Menurut Bossard dan Boll : bahwa masyakat iti mula-mula terdiri dari small family, yaitu suatu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak maksimal 2-3 orang anak. Yang dipentingkan adalah agar anak mendapatkan kualitas yang baik. Dikatakan bahwa kelas-kelas sosial dapat dibedakan menjadi 3 macam: Upper-class : sikap terhadap anak adalah bangga dan menaruh pengharapan. Mereka berjuang untuk mendidik anak semaksimal mungkin, Middle-class: disini tidak diadakan penyelidikan, Lower-class: keinginan-keinginan seperti poin satu itu kurang karena alasan-alasan ekonomi dan sosial.
Selanjutnya kluckhohn, mengadakan penyelidikan dipandang dari masalah wewenang. Bagaimana anak-anak lower-class iini mwmandang terhadap wewenang. * biasanya anak dari lower-class ini memandang kelas diatasnya bersifat takut. Sedangkan anak middle-class memendang wewenang bersifat menghormati. * pada lower-class biasanya disiplin itu ditandai dengan cirri-ciri fisik/kekerasan/konflik. Kalau marah biasanya bersifat badaniah. Sedangkan pada middle-class tidak dengan cara fisik, tetapi dengan cara kompetisi/persaingan, misalnya dalam pertandingan olahraga atau pelajaran dsb.
Gengsi dan kekuasaan adalah sukar dipisahkan biasanya orang yang memiliki kekuasaan, memepunyai gengsi yang tinggi meskipun begitu kadang-kadang juga terjadi, bahwa gengsinya sudah turun, tetapi kekuasaanya masih tetap tinggi. Sehubungan dengan hal tersebut, bagaimanakah seseorang dapat mencapai status tertentu?
1.       Ascribed statues : kedudukan seseorang yang akan didapat dengan sendirinya. Misalnya, golongan-golongan berdasarkan jenis kelamin, tingkat umur dan sebagainya. Atau dengan kata lain : seseorang dapat mencapai status secara ascribe, karena ia dilahirkan dalam golongan tertentu, misalnya seorang anak raja.
2.       Achievel statues : kedudukan seseorang yang didapatkan dengan cara berusaha atau berjuang, misalnya : sebagai pemimpin partai politik, guru, dosen dan sebagainya. Boleh misalnya seorang buruh berjuang untuk menjadi majikan, guru SD berjuang menjadi Profesor dan sebagainya.
Dalam kesamaan derajat manusia sering mendapatkan sebutan sebagai “homo homini lupus”. Jika kita menyelami hakikat kemanusiaan maka “homo homini lupus” dan strafikasi sosial yang kita kenal sekarang adalah merupakan sesuatu kesenjangan dan sekaligus tentang bagi eksistansi kemanusiaan. Pertanyaan di atas sebenarnya telah terjawab dalam pembicaraan tentang beberapa teori pelapisan sosial yang kita simpulkan bahwa : pertama, atribut kemanusiaan yang utama berupa akal pikiran memebuatnya memandang kehidupan ini sebagai suatu rahasia yang harus dijadikan jawabannya. Kedua, Atribut “kebinatangan” yang melekat pada manusia berupa nafsu menuntutunya untuk memenuhi segala bentuk kebutuhannya baik secara fisik maupun non fisik(biologis maupun fsikis). Hal ini menjadikan manusia tidak pernah puas dengan apa yang telah diperolahnya. Ketiga, Ketidakpuasan manusia dengan apa yang telah dicapainya dalam dua bidang tersebut menyebabkan terjadinya perlombaan antara satu dengan yang lain untuk saling mendahului dan saling mengusai. Ketiga acuan yang lebih bersikap psikologis ini adalah merupakam garis kodrati untuk menghadapi kehidupan ini.