Laman

Jumat, 05 November 2010

Masih Adakah Arti Pahlawan Itu


Disusun oleh Toni Tanamal
Pahlawan, apa itu pahlawan? Menurut saya pahlawan adalah orang yang pernah berjasa dan bekeraj keras atau bertarung sekuat jiwa dan raga bahkan sampai titik darah penghabisan untuk memepertahankan hak-hak yang dianggap oleh sebagian orang itu adalah suatu kebenaran dan berjuang demi untuk kepentingan bersama dengan tanpa pamrih. tapi kenapa banyak yang mengabaikan arti dari kepahlawanan nasionalnya sendiri.  Padahal di media, film, buku, dan komik istilah kepahlawanan ini kerap terdengar seolah-olah kata pahlawan itu menjadi headline didalam kehidupan sehari-hari. Apa sebenarnya pahlawan menurut generasi anak muda? Coba tanyakan pada mereka, pahlawan seperti apa yang mereka kenal? Apakah lebih mengenal pahlawan animasi Jepang dan atau super heronya Amerika daripada pahlawan negaranya sendiri Pangeran Dipenogoro, Bung Tomo, Tuanku Imam Bonjol, dan lain-lain. Namun ada lagi  yang lebih mengejutkan adalah pemuatan patung Obama di Menteng, yang seakan-akan patung itu menjadi simbolisme bahwa dia adalah pahlawan bagi negeri ini. Padahal hanya pernah merasakan tinggal dan sekolah di Indonesia dengan durasi beberapa bulan atau tahun dan belum sempat memeberikan hal yang signifikan akan negara ini untuk memenuhi kriteria pahlawan, apa karena mungkin sekarang telah menjadi salah satu orang penting di negeri Paman Sam. Dengan pengutaraan yang seperti itu apakah benar bahwa dia lebih hebat kedudukannya dibandingkan dengan pahlawan nasional kita atau bahkan lebih hebat dari  Soekarno sekalipun?  Kalo memeng begitu,oke.. itu bukan masalah mau siapapun yang dijadikan sebagai pahlawan asalakan masih dapat dicerna oleh akal dan pikiran kita , menurut saya itu sah-sah aja.
Nah, mari kita tengok dan bandingkan dengan kejadian beberapa hari lalu yang cukup ramai mengisi headline berita stasiun televisi, yakni Pro dan Kontra tentang pemberian gelar pahlawan nasional kepada mantan Presiden RI yang kedua, Kenapa harus diperdebatkan? Toh dia juga merasakan yang namanya berjuang melawan penjajah, melawan pemberontakan yang dikenal dengan G30SPKI atau RSM kalo boleh kita sebutkan juga, memepertahankan kemerdekaan, bahkan sempat bisa memimpin negara selama 6 periode serta sampai-sampai di juluki Bapak Pembangun berkat dedikasi terhadap pembangunan negara ini, apakah itu kurang luar bisa atau bahkan tak sebanding dengan kriteria pahlawan yang pernah ada di sini. Semua berakar kepada nilai negatif yang telah dilakukan Soeharto, namun menurut saya itu wajar, toh yang namanya orang tak luput dari salah dan dosa. Seiring perubahan zaman, pergeseran nilai etika, adat istiadat sampai dengan teknologi mulai memasuki setiap jenjang kehidupan bangsa ini. Sebuah zaman ketika masyarakat Indonesia merasakan kuatnya cengkraman globalisasi yang berkedok modernisasi. Adakalanya perubahan tersebut memicu ke arah positif, namun tidak dapat dimungkiri, bahwa ada perubahan negatif yang mengkhawatirkan. Pengaruh negatif tersebut akan tampak dalam kehidupan generas-generasi yang akan datang dan sedang berlangsung, terutama dalam menghayati dan mengamalkan nilai kepahlawanan. Meski demikian, kita memang harus tetap optimistis bahwa bangsa ini mau menghargai dan menerapkan nilai-nilai kepahlawanan. Semangat juang, kegigihan dan pantang menyerah, mengedepankan amanat rakyat, anti korupsi, adalah beberapa sifat pahlawan yang dapat kita teladani. Dari situ kita bisa menghargai jasa para pahlawan serta menerapkan sifat-sifat teladan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya kita harus tahu dan benar-benar menghayati darah para pejuang yang telah membela negeri ini.
Pada prinsipnya pemasukan nilai-nilai kepahlawanan dalam generasi muda harus dilakukan sejak dini. Urgensi harus dicapai mengingat perubahan zaman yang semakin nyatadan lambat laun mengikis nasionalisme generasi muda. Generasi muda kita begitu lekat bahkan mengidolakan pahlawan khayalan ciptaan luar negeri dan Kemungkinan besar tak mengenal lagi siapa tokoh yang mendirikan dan memperjuangkan negeri ini. Kalaupun mereka mengenal, hanya sebatas ingat nama dalam balutan buku sejarah. Semua itu akan membawa dampak yang luar biasa bagi perkembangan anak di masa yang akan datang. Bukan hanya nilai dan moral yang tidak sesuai dengan kultur kebudayaan Indonesia, namun pada prakteknya kultur bangsa ini akan digantikan oleh kultur kebudayaan asing.  Penerapan nilai-nilai kepahlawanan sudah sepatutnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika berpikir ke depan, tentu saja peranan orang tua, lingkungan dan negara diperlukan. Orang tuanya setidaknya mengajarkan nilai-nilai kepahlawanan tersebut dalam ruang lingkup keluarga, jangan sampai semangat dan nilai pahlawan tersebut hanya diterapkan pada formalitas pendidikan semata. Karena kenyataannya pendidikan sejarah dan kewarnegaraan bagi generasi muda hanya dijadikan kebutuhan pemenuhan nilai akademik dibandingkan dengan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepahlawanan. Hal yang perlu ditekankan lagi bahwa generasi tua harus menyerahkan mata rantai kepemimpinan terhadap generasi penerus dengan bekal-bekal nilai-nilai luhur yang dimiliki para pahlawan. Nah, sudah sepantasnya pemerintah mencoba menggunakan media dengan membuat film, sinetron yang berbau kepahlawanan dan mengedepankan aspek moralitas bangsa. Jangan sampai yang ditonton dan ditiru justru kebudayaan asing yang tidak cocok dengan kultur kebudayaan Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar